Cerdas Geografi

Minggu, 16 Juni 2013

“ CEREMONIAL PROSESI JUMA’D AGUNG DI KOTA LARANTUKA ’’



“ CEREMONIAL PROSESI JUMA’D AGUNG
DI KOTA LARANTUKA ’’
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
Prosesi Jumad Agung merupakan ritual keagamaan yang menempatkan Yesus sebagai pusat ritual dan Bunda Maria sebagai ibu yang berkabung. Ceremonial ini dirayakan oleh masyarakat Kota Larantuka setiap tahunnya dan  merupakan paduan antara budaya suku dan ritual keagamaan umat katolik. Puncak dari ritual keagamaan ini bertepatan dengan hari wafatNya Yesus Kristus yang dipercayai oleh umat Kristiani sebagai Sang Penebus dosa umat manusia pada hari Juma’d Agung atau Sesta Vera. Kota Larantuka merupakan kota yang terletak di wilayah paling timur Pulau Flores, yang dikenal dengan nama Kota Reinha atau Tana Nagi. Larantuka merupakan Ibu Kota Kabupaten Flores Timur dan merupakan kota yang memiliki pengaruh kuat kolonial Portugis dan juga dikenal sebagai salah satu tempat dimana agama Khatolik berkembang di Indonesia.
Semana Santa adalah pekan suci yang dimulai dari Minggu Palem sampai Minggu Paskah. Puncak ritual keagamaan ini berlangsung pada hari Jumat Agung. Semana Santa merupakan perayaan Katolik khas masyarakat Larantuka, Flores Timur, NTT. Pekan Suci Semana Santa dimulai dengan penyalaan lilin saat berziarah ke makam keluarga. Prosesi Jumat Agung mengelilingi Kota merupakan ritual perarakan Patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Patung Tuan Ana (Yesus) yang akan diarak keliling Kota Larantuka yang diwakili oleh 8 (delapan) armida atau tempat perhentian. Ritual ini sudah berlangsung selama 500 tahun dan merupakan ritual peninggalan Portugis. Semua tradisi, ornamen, dan perlengkapan yang digunakan dalam pelaksanaan   prosesi Jumat Agung adalah warisan Portugis.
1.2.   Rumusan Masalah
a.       Bagaimana sejarah masuknya agama katolik di Kota Larantuka?
b.      Apa yang dimaksud Semana Santa?
c.       Bagaimana Pelaksanaan Prosesi Juma’d Agung di Kota Larantuka?
1.3.Tujuan dan Manfaat
a.       Tujuan
1.      Untuk mengetahui proses pelaksaan prosesi Juma’d Agung.
2.      Memenuhi tugas yang diberikan dalam proses pembelajaran mata kuliah geo budaya.
b.      Manfaat
1.      Memberikan sumbangan pengetahuan bagi yang membaca makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Sejarah Masuknya Agama Katolik Di Larantuka
                     Pada mulanya perkembangan Agama Katolik disiarkan oleh kaum awam atau non klerus. Berkembang pesatnya agama Katolik di daratan Flores dan NTT  berkat dukungan dan peran para raja di Larantuka, para raja di daratan Flores, para misionaris serta confreria atau perkumpulan persaudaraan rasul awam. Sejarah mencatat, berkembangnya Agama Katolik di Larantuka berkat dukungan para Kakang (Kakang Lewo Pulo) dan para Pou atau Suku Lema. Dalam penyebaran ajaran Katolik inilah, kemudian melahirkan suatu tradisi yang disebut dengan Semana Santa.
         Kota Larantuka adalah sebuah kota kecil yang berada disepanjang kaki gunung Ile Mandiri dan memiliki sejarah tersendiri, karena merupakan kota tua tempat awal penyebaran agama Katolik di wilayah Flores oleh sejumlah misionaris Katolik dari negara Portugis.
         Reinha Rosari adalah terjemahan dari Bahasa Latin yang berarti Bunda Berdukacita, yang merupakan asal mula ditemukannya Tuan Ma (Patung Bunda Maria) oleh warga setempat. Reinha Rosari merupakan julukan bagi Kota Larantuka, yang terletak diujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Umat katolik di Kota Larantuka berkeyakinan Patung Tuan Ma dihadiahkan imam Dominikan (rohaniwan katolik, red) asal portugis bagi warga Larantuka yang baru memeluk agama katolik pada abad ke-16. Sementara versi lain menurut warga Larantuka berketurunan Bangsawan mengisahkan, Patung Tuan Ma ditemukan mengapung di pantai kuce oleh warga Larantuka yang kemudian menyampaikan berita ini kepada raja yang sedang berkuasa saat itu.
   Patung ini kemudian diperintahkan raja untuk ditahtakan di puncak gunung Ile Mandiri sebelum diberikan nama. Pasca peristiwa penemuan itu, datanglah misionaris katolik dan melihat patung Tuan Ma yang kemudian memberitahukan kepada raja bahwa Inilah Ibu dari Yesus Kristus yang selama ini diwartakan para misionaris katolik”. Sejak saat itulah, patung ini diberi nama Tuan Ma dari bahasa setempat yang berarti Bunda Maria pada yang kemudian ditahtakan pada Kapela yang hingga kini dijadikan tempat ziarah bagi umat katolik menjelang perayaan Paskah yang dirangkaikan dengan nama Pekan Semana Santa.
2.2.      Semana Santa
         Semana Santa adalah suatu tradisi warisan Portugis di Larantuka. Tradisi ini berawal dari abad ke XV sejak masuknya misionaris Dominikan. Prosesi Semana Santa yang dirangkaikan dengan mengarak patung Tuan Menino dan Tuan Ma hingga puncak perayaan paskah. Kota Larantuka sejak dulu dijuluki sebagai kota Reinha Rosari yang merupakan tonggak sejarah ditemukan patung Tuan Ma pada lima abad lalu.
         Memasuki masa Puasa atau masa Prapaska umat Katolik di Larantuka merayakan tradisi Semana Santa. Dengan nama Semana Santa dimaksudkan bukan hanya segala perayaan yang berlangsung dalam Minggu Kudus sebelum Paska, melainkan juga mengenai banyak hal lain yang dilaksanakan selama masa Puasa, seperti doa bergilir, latihan-latihan dan pertemuan-pertemuan. Semana Santa dalam arti sempit dimulai pada Hari Minggu Palma, kemudian menyusul hari Rabu yang disebut Rabu Trewa. Berawal dari Minggu Palem, berbagai kapela kecil (disebut Tori) yang berada di Kota Larantuka mulai berbenah. Karena prosesi Jumat Agung akan melintasi kapela-kapela ini. Tetapi yang paling sakral terlihat di Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana yang jaraknya saling berdekatan. Patung Tuan Ma diarakan untuk dipertemukan dengan Tuan Ana, Sang Putera Terkasih. Sejak awal pekan, kota Larantuka hanya bersiap untuk menyambut Ratu Rosari, Bunda Maria yang menjadi Ratu (Reinha) kota Larantuka. Pada hari Rabu (disebut Rabu Trewa atau Rabu Berkabung), umat Katolik Larantuka mengungkapkan pernyataan tobat dan pujian yang dilantunkan kepada Bunda Maria, yang mana dengan mencium Bunda Maria maka segalanya teratasi ( Per Mariam ad Jesum yakni melalui Maria orang sampai pada Yesus). Pada Hari Kamis Putih pada siang hingga malam hari, para peziarah sudah bisa melihat Tuan Ma dan Tuan Ana yang sudah dibuka bagi umum sejak pagi disertai antrean panjang hingga lewat tengah malam untuk mencium Bunda Maria  dan berjaga-jaga bersama Yesus yang sedang bersiap menghadapi kematian-Nya.. Tradisi Semana Santa di Kota Larantuka dan masyarakat Flores pada umumnya merupakan bentuk penghayatan devosional umat Katolik terhadap Bunda Maria..
         Umumnya umat percaya, bahwa patung Bunda Maria itu, konon pada 500 tahun lalu terhanyut dari laut dan diketemukan terdampar di Pante Ae Kongga Pante Besar Larantuka. Ketika dikenal sebagai patung Bunda Maria, umat Katolik mengambil dan menempatkannya dalam sebuah kapela di mana orang berdoa dan memuji Allah dan Bunda Maria. Patung itu biasa kelihatan terbungkus dengan sebuah mantel indah yang besar berwarna biru tua, dan yang nampak hanya wajah dan tangan kanan yang terbuka. Untuk mengungkapkan cinta kepada Santa Maria, dipakailah sebutan “Tuan Ma” yang terasa lebih manis dan akrab. Penghormatan terhadap Tuan Ma ini berdasarkan ajaran Gereja Katolik tentang Santa Maria dalam peranannya yang sangat erat berkaitan dengan hidup serta karya Yesus Kristus. Santa Maria adalah Bunda yang melahirkan Yesus Kristus, dan dia adalah juga Bunda Gereja yaitu umat yang percaya kepada Yesus Kristus. Kesetiaan menghormati dan mencintai Santa Bunda Maria (Tuan Ma) mempunyai dasar dalam pengalaman-pengalaman, baik yang nyata dan dapat dibuktikan maupun yang tidak nampak dan bersifat spiritual
         Upacara Semana Santas sangat unik karena terlibatnya para raja maupun bangsawan. Peran dan pengaruh Raja Larantuka dan keturunannya sangat besar dan dominant dalam setiap penyelenggaraan. Sejak Raja Larantuka ke-10 yakni Raja Ola Oda Bala DVG dipermandikan secara Katolik, beliau telah memerintahkan agar semua suku (Pou) yang berada dalam lingkaran kekuasaannya harus memberi perhatian yang serius dalam membantu gereja, baik dalam usaha perluasan agama maupun peningkatan iman umat. Pada setiap pagelaran kegiatan Semana Santa yang dilakukan secara mentradisi, Raja dan keturunannya bersama suku-suku Semana mengkoordinir seluruh rangkaian kegiatan.
         Prosesi Semana Santa berakhir pada Rabu Trewa. Pada hari tersebut, di semua kapela pada sore harinya umat melakukan lamentasi atas mendaraskan ratapan seperti yang dilakukan Nabi Yeremia pada masa lampau. Di Larantuka, lamentasi dilakukan dengan cara  mengikuti ritus atau cara  Romawi.
Sehari sebelum Jumat Agung atau pada Kamis Putih, warga Kota Larantuka melakukan kegiatan yang disebut dengan ‘tikan turo’ atau menanam tiang-tiang lilin pada semua pagar sepanjang jalan yang menjadi rute prosesi Jumat Agung. Tikan turo dilakukan oleh kaum mardomu sesuai “promesa-nya” (nasarnya). Sementara itu, di Kapela Tuan Ma, berlangsung upacara ‘muda tuan’ atau upacara pembukaan peti yang selama satu tahun ditutup oleh petugas Confreria yang telah diangkat melalui sumpah.
         Selanjutnya Arca Tuan Ma dibersihkan dan dimandikan kemudian dilengkapi dengan busana perkabungan, sehelai mantel warna hitam, ungu atau beludru biru. Setelah itu kesempatan diberikan kepada umat untuk berdoa, menyembah, bersujud mohon berkat dan rahmat, kiranya permohonannya dikabulkan oleh Tuhan Yesus melalui perantaraan Bunda Maria (Per Mariam ad Jesum). Pintu kapela Tuan Ma dan Tuan Ana baru dibuka pada pagi pukul 10.00. Sebagaimana tradisi, Raja keturunan Diaz Viera Godinho yang membuka pintu kapela. Sesudah dibuka baru dimulai kegiatan pengecupan Tuan Ma dan Tuan Ana (Cium Tuan) yang berlangsung dalam suasana hening dan sakral.
2.3.      Prosesi Jumad Agung
         Prosesi Jumat Agung atau Sesta Vera merupakan puncak dari rangkaian perayaan Semana Santa. Pagi hari sebelum puncak acara, arak-arakan Tuan Menino (bayi Yesus) dilakukan lewat laut. Tepatnya di kapela Tuan Meninu di kota Rowido, San Juan, sekitar 5 km dari pusat kota Larantuka dilangsungkan upacara persiapan prosesi Anta Tuan (prosesi laut). Tuan Menino, sebutan untuk Kanak-kanak Yesus, akan dimuat ke sampan yang akan membawanya ke Pantai Kuce-Pohon Sirih, Larantuka. Menggunakan perahu dayung kecil, diikuti perahu-perahu lain. Jauh di samping dan belakangnya, masyarakat mengantar menggunakan perahu motor. Di jalanan, masyarakat bergerombolan mengikuti perahu dari pinggiran pantai hingga tempat perhentian di antara Kapela (kapel) Tuan Ma dan Tuan Anna. Siang itu juga dilanjutkan dengan arakan patung Tuan Ma dan Tuan Anna menuju Katedral Larantuka. Di sinilah dimulai prosesi dengan jutaan lilin. Umat dan peziarah memadati Gereja Kathedral untuk melakukan prosesi puncak Jumat Agung. Patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Patung Tuan Ana (Yesus) akan diarak keliling Larantuka yang diwakili oleh 8 armida (tempat perhentian). Sekitar pukul 19.00, umat mulai bergerak dari Gereja Kathedral mengantar Patung Tuan Ma dan Patung Tuan Ana menuju setiap armida. Armida-armida tersebut menyimbolkan kehidupan Yesus mulai dari masa Bunda Maria mengandung hingga wafatnya Yesus. Delapan armida melambangkan 8 suku. Sebelumnya, pada pukul 18.00, Lakademu atau petugas yang akan menandu patung Tuan Ana melakukan jalan kure. Jalan kure adalah memeriksa situasi keamanan di sepanjang rute yang akan dilewati patung Tuan Ma dan patung Tuan Ana. Lakademu menggunakan baju khas Portugis dengan busana tertutup hingga ke wajah. Sementara itu, di sore hari warga mulai menempatkan gambar dan patung Bunda Maria di muka rumah yang akan dilewati Patung Ma dan Patung Ana. Armida-armida pun dirias. Malam saat iring-iringan, ribuan umat dan peziarah baik penduduk Larantuka maupun pengunjung dari luar kota dan mancangera berbaur turun ke jalan. Sambil berjalan, mereka terus melantunkan Salam Maria dan kidung-kidung. Masing-masing membawa lilin. Di Gereja Kathedral dan di setiap armida dilantunkan kidung “O Vos” atau ratapan derita Yesus.

BAB III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
a. Kota Larantuka adalah sebuah kota kecil yang berada disepanjang kaki gunung Ile Mandiri dan memiliki sejarah tersendiri, karena merupakan kota tua tempat awal penyebaran agama Katolik di wilayah Flores oleh sejumlah misionaris Katolik dari negara Portugis dan dijuluki sebagai kota Reinha Rosari yang merupakan tonggak sejarah ditemukan patung Tuan Ma.
b. Semana Santa adalah suatu tradisi warisan Portugis di Larantuka. Tradisi ini berawal dari     abad ke XV sejak masuknya misionaris Dominikan. Prosesi Semana Santa yang dirangkaikan dengan mengarak patung Tuan Menino dan Tuan Ma hingga puncak perayaan paskah. Semana Santa dalam arti sempit dimulai pada Hari Minggu Palma, kemudian menyusul hari Rabu yang disebut Rabu Trewa.
c. Prosesi Jumat Agung atau Sesta Vera merupakan puncak dari rangkaian perayaan Semana Santa.
3.2.  Saran
a. Bagi masyarakat Larantuka sangat diharapkan untuk selalu menjaga dan melestarikan warisan para leluhur, sehingga dapat terwujud keharmonisan didalam hidup beragama khususnya berkaitan dengan ritual prosesi Jumad Agung.

DAFTAR PUSTAKA

Daeng, Hans J., 2000. Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan: Tinjauan Anropologis Pengantar
             Dr. Irwan Abdullah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Fernandez, Stephanus Osias, 1990. Kebijakan Manusia Nusa Tenggara Timur Dulu dan Kini.
             Ledalero: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik
Ghono, John, 1992. “Nilai Religius Budaya NTT Sebelum dan Sesudah Masuknya Pengaruh Kristianitas”    Makalah Diskusi Panel Sehari Pelestarian Budaya Lokal. Yogyakarta: Forum Studi Eureka

Pinto da Franca, Antonio. 2000. Pengaruh Portugis di Indonesia. Diterjemahkan oleh Pericles Katoppo         dari Portuguese Influence in Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.























MATERI GEOGRAFI K13 BAB VI KERAGAMAN BUDAYA SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL

A.       Sebaran Keragaman Budaya Nasional 1.       1. Konsep Budaya Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah , yang ...