“
CEREMONIAL PROSESI JUMA’D AGUNG
DI
KOTA LARANTUKA ’’
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Prosesi
Jumad Agung merupakan ritual keagamaan yang menempatkan Yesus sebagai pusat
ritual dan Bunda Maria sebagai ibu yang berkabung. Ceremonial ini dirayakan
oleh masyarakat Kota Larantuka setiap tahunnya dan merupakan paduan antara budaya suku dan
ritual keagamaan umat katolik. Puncak dari ritual keagamaan ini bertepatan
dengan hari wafatNya Yesus Kristus yang dipercayai oleh umat Kristiani sebagai
Sang Penebus dosa umat manusia pada hari Juma’d Agung atau Sesta Vera. Kota
Larantuka merupakan kota yang terletak di wilayah paling timur
Pulau Flores, yang dikenal dengan nama Kota
Reinha atau Tana Nagi. Larantuka merupakan Ibu Kota Kabupaten
Flores Timur dan merupakan kota yang memiliki pengaruh kuat kolonial Portugis
dan juga dikenal sebagai salah satu tempat dimana agama Khatolik berkembang di
Indonesia.
Semana Santa adalah pekan suci yang
dimulai dari Minggu Palem sampai Minggu Paskah. Puncak ritual keagamaan ini
berlangsung pada hari Jumat Agung. Semana Santa merupakan perayaan Katolik khas
masyarakat Larantuka, Flores Timur, NTT.
Pekan Suci Semana Santa dimulai dengan penyalaan lilin saat
berziarah ke makam keluarga. Prosesi Jumat Agung mengelilingi Kota merupakan
ritual perarakan Patung
Tuan Ma (Bunda Maria) dan Patung Tuan Ana (Yesus) yang akan diarak keliling
Kota Larantuka yang diwakili oleh 8 (delapan) armida atau tempat perhentian. Ritual
ini sudah berlangsung selama 500 tahun dan merupakan ritual peninggalan
Portugis. Semua tradisi, ornamen, dan perlengkapan yang digunakan dalam
pelaksanaan prosesi Jumat Agung adalah
warisan Portugis.
1.2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana sejarah masuknya agama
katolik di Kota Larantuka?
b. Apa yang dimaksud Semana Santa?
c. Bagaimana Pelaksanaan Prosesi
Juma’d Agung di Kota Larantuka?
1.3.Tujuan dan Manfaat
a. Tujuan
1. Untuk mengetahui proses pelaksaan
prosesi Juma’d Agung.
2. Memenuhi tugas yang diberikan
dalam proses pembelajaran mata kuliah geo budaya.
b. Manfaat
1. Memberikan sumbangan pengetahuan
bagi yang membaca makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Sejarah
Masuknya Agama Katolik Di Larantuka
Pada
mulanya perkembangan Agama Katolik disiarkan oleh kaum awam atau non klerus.
Berkembang pesatnya agama Katolik di daratan Flores dan NTT berkat dukungan dan peran para raja di
Larantuka, para raja di daratan Flores, para misionaris serta confreria atau
perkumpulan persaudaraan rasul awam. Sejarah mencatat, berkembangnya Agama
Katolik di Larantuka berkat dukungan para Kakang (Kakang Lewo Pulo) dan para
Pou atau Suku Lema. Dalam penyebaran ajaran Katolik inilah, kemudian melahirkan
suatu tradisi yang disebut dengan Semana Santa.
Kota Larantuka adalah sebuah
kota kecil yang berada disepanjang kaki gunung Ile Mandiri dan memiliki sejarah
tersendiri, karena merupakan kota tua tempat awal penyebaran agama Katolik di
wilayah Flores oleh sejumlah misionaris Katolik dari negara Portugis.
Reinha Rosari adalah terjemahan
dari Bahasa Latin yang berarti Bunda Berdukacita, yang merupakan asal mula
ditemukannya Tuan Ma (Patung Bunda Maria) oleh warga setempat. Reinha Rosari
merupakan julukan bagi Kota Larantuka, yang terletak diujung timur Pulau Flores,
Nusa Tenggara Timur. Umat katolik di Kota Larantuka berkeyakinan Patung Tuan Ma
dihadiahkan imam Dominikan (rohaniwan katolik, red) asal portugis bagi warga
Larantuka yang baru memeluk agama katolik pada abad ke-16. Sementara versi lain
menurut warga Larantuka berketurunan Bangsawan mengisahkan, Patung Tuan Ma
ditemukan mengapung di pantai kuce oleh warga Larantuka yang kemudian
menyampaikan berita ini kepada raja yang sedang berkuasa saat itu.
Patung ini kemudian diperintahkan raja untuk ditahtakan di puncak gunung Ile Mandiri sebelum diberikan nama. Pasca peristiwa penemuan itu, datanglah misionaris katolik dan melihat patung Tuan Ma yang kemudian memberitahukan kepada raja bahwa Inilah Ibu dari Yesus Kristus yang selama ini diwartakan para misionaris katolik”. Sejak saat itulah, patung ini diberi nama Tuan Ma dari bahasa setempat yang berarti Bunda Maria pada yang kemudian ditahtakan pada Kapela yang hingga kini dijadikan tempat ziarah bagi umat katolik menjelang perayaan Paskah yang dirangkaikan dengan nama Pekan Semana Santa.
Patung ini kemudian diperintahkan raja untuk ditahtakan di puncak gunung Ile Mandiri sebelum diberikan nama. Pasca peristiwa penemuan itu, datanglah misionaris katolik dan melihat patung Tuan Ma yang kemudian memberitahukan kepada raja bahwa Inilah Ibu dari Yesus Kristus yang selama ini diwartakan para misionaris katolik”. Sejak saat itulah, patung ini diberi nama Tuan Ma dari bahasa setempat yang berarti Bunda Maria pada yang kemudian ditahtakan pada Kapela yang hingga kini dijadikan tempat ziarah bagi umat katolik menjelang perayaan Paskah yang dirangkaikan dengan nama Pekan Semana Santa.
2.2. Semana
Santa
Semana
Santa adalah suatu tradisi warisan Portugis di Larantuka. Tradisi ini berawal
dari abad ke XV sejak masuknya misionaris Dominikan. Prosesi Semana Santa yang
dirangkaikan dengan mengarak patung Tuan Menino dan Tuan Ma hingga puncak
perayaan paskah. Kota Larantuka sejak dulu dijuluki sebagai kota Reinha Rosari
yang merupakan tonggak sejarah ditemukan patung Tuan Ma pada lima abad lalu.
Memasuki
masa Puasa atau masa Prapaska umat Katolik di Larantuka merayakan tradisi
Semana Santa. Dengan nama Semana Santa dimaksudkan bukan hanya segala perayaan
yang berlangsung dalam Minggu Kudus sebelum Paska, melainkan juga mengenai
banyak hal lain yang dilaksanakan selama masa Puasa, seperti doa bergilir,
latihan-latihan dan pertemuan-pertemuan. Semana Santa dalam arti sempit dimulai
pada Hari Minggu Palma, kemudian menyusul hari Rabu yang disebut Rabu Trewa.
Berawal dari Minggu Palem, berbagai kapela kecil (disebut
Tori) yang berada di Kota Larantuka mulai berbenah. Karena prosesi Jumat Agung
akan melintasi kapela-kapela ini. Tetapi yang paling sakral terlihat di Kapela
Tuan Ma dan Tuan Ana yang jaraknya saling berdekatan. Patung Tuan Ma diarakan
untuk dipertemukan dengan Tuan Ana, Sang Putera Terkasih.
Sejak awal pekan, kota Larantuka hanya bersiap untuk
menyambut Ratu Rosari, Bunda Maria yang menjadi Ratu (Reinha) kota Larantuka.
Pada hari Rabu (disebut Rabu Trewa atau Rabu Berkabung), umat Katolik Larantuka
mengungkapkan pernyataan tobat dan pujian yang dilantunkan kepada Bunda Maria,
yang mana dengan mencium Bunda Maria maka segalanya teratasi ( Per Mariam ad
Jesum yakni melalui Maria orang sampai pada Yesus). Pada
Hari Kamis Putih pada siang hingga malam hari, para peziarah sudah bisa melihat
Tuan Ma dan Tuan Ana yang sudah dibuka bagi umum sejak pagi disertai antrean
panjang hingga lewat tengah malam untuk mencium Bunda Maria dan berjaga-jaga bersama Yesus yang sedang
bersiap menghadapi kematian-Nya.. Tradisi Semana Santa di Kota Larantuka dan masyarakat Flores pada
umumnya merupakan bentuk penghayatan devosional umat Katolik terhadap Bunda
Maria..
Umumnya
umat percaya, bahwa patung Bunda Maria itu, konon pada 500 tahun lalu terhanyut
dari laut dan diketemukan terdampar di Pante Ae Kongga Pante Besar Larantuka.
Ketika dikenal sebagai patung Bunda Maria, umat Katolik mengambil dan
menempatkannya dalam sebuah kapela di mana orang berdoa dan memuji Allah dan
Bunda Maria. Patung itu biasa kelihatan terbungkus dengan sebuah mantel indah
yang besar berwarna biru tua, dan yang nampak hanya wajah dan tangan kanan yang
terbuka. Untuk mengungkapkan cinta kepada Santa Maria, dipakailah sebutan “Tuan
Ma” yang terasa lebih manis dan akrab. Penghormatan terhadap Tuan Ma ini
berdasarkan ajaran Gereja Katolik tentang Santa Maria dalam peranannya yang
sangat erat berkaitan dengan hidup serta karya Yesus Kristus. Santa Maria adalah
Bunda yang melahirkan Yesus Kristus, dan dia adalah juga Bunda Gereja yaitu
umat yang percaya kepada Yesus Kristus. Kesetiaan menghormati dan mencintai
Santa Bunda Maria (Tuan Ma) mempunyai dasar dalam pengalaman-pengalaman, baik
yang nyata dan dapat dibuktikan maupun yang tidak nampak dan bersifat spiritual
Upacara
Semana Santas sangat unik karena terlibatnya para raja maupun bangsawan. Peran
dan pengaruh Raja Larantuka dan keturunannya sangat besar dan dominant dalam
setiap penyelenggaraan. Sejak Raja Larantuka ke-10 yakni Raja Ola Oda Bala DVG
dipermandikan secara Katolik, beliau telah memerintahkan agar semua suku (Pou)
yang berada dalam lingkaran kekuasaannya harus memberi perhatian yang serius
dalam membantu gereja, baik dalam usaha perluasan agama maupun peningkatan iman
umat. Pada setiap pagelaran kegiatan Semana Santa yang dilakukan secara
mentradisi, Raja dan keturunannya bersama suku-suku Semana mengkoordinir
seluruh rangkaian kegiatan.
Prosesi Semana Santa berakhir pada Rabu
Trewa. Pada hari tersebut, di semua kapela pada sore harinya umat melakukan
lamentasi atas mendaraskan ratapan seperti yang dilakukan Nabi Yeremia pada
masa lampau. Di Larantuka, lamentasi dilakukan dengan cara mengikuti ritus atau cara Romawi.
Sehari sebelum Jumat Agung atau pada Kamis Putih, warga Kota Larantuka melakukan kegiatan yang disebut dengan ‘tikan turo’ atau menanam tiang-tiang lilin pada semua pagar sepanjang jalan yang menjadi rute prosesi Jumat Agung. Tikan turo dilakukan oleh kaum mardomu sesuai “promesa-nya” (nasarnya). Sementara itu, di Kapela Tuan Ma, berlangsung upacara ‘muda tuan’ atau upacara pembukaan peti yang selama satu tahun ditutup oleh petugas Confreria yang telah diangkat melalui sumpah.
Sehari sebelum Jumat Agung atau pada Kamis Putih, warga Kota Larantuka melakukan kegiatan yang disebut dengan ‘tikan turo’ atau menanam tiang-tiang lilin pada semua pagar sepanjang jalan yang menjadi rute prosesi Jumat Agung. Tikan turo dilakukan oleh kaum mardomu sesuai “promesa-nya” (nasarnya). Sementara itu, di Kapela Tuan Ma, berlangsung upacara ‘muda tuan’ atau upacara pembukaan peti yang selama satu tahun ditutup oleh petugas Confreria yang telah diangkat melalui sumpah.
Selanjutnya
Arca Tuan Ma dibersihkan dan dimandikan kemudian dilengkapi dengan busana
perkabungan, sehelai mantel warna hitam, ungu atau beludru biru. Setelah itu
kesempatan diberikan kepada umat untuk berdoa, menyembah, bersujud mohon berkat
dan rahmat, kiranya permohonannya dikabulkan oleh Tuhan Yesus melalui
perantaraan Bunda Maria (Per Mariam ad Jesum). Pintu kapela Tuan Ma dan Tuan
Ana baru dibuka pada pagi pukul 10.00. Sebagaimana tradisi, Raja keturunan Diaz
Viera Godinho yang membuka pintu kapela. Sesudah dibuka baru dimulai kegiatan
pengecupan Tuan Ma dan Tuan Ana (Cium Tuan) yang berlangsung dalam suasana
hening dan sakral.
2.3. Prosesi
Jumad Agung
Prosesi
Jumat Agung atau Sesta Vera merupakan puncak dari rangkaian perayaan Semana
Santa. Pagi hari sebelum puncak acara, arak-arakan Tuan Menino (bayi Yesus)
dilakukan lewat laut. Tepatnya di kapela Tuan Meninu di kota Rowido, San Juan,
sekitar 5 km dari pusat kota Larantuka dilangsungkan upacara persiapan prosesi
Anta Tuan (prosesi laut). Tuan Menino, sebutan untuk Kanak-kanak Yesus, akan
dimuat ke sampan yang akan membawanya ke Pantai Kuce-Pohon Sirih, Larantuka.
Menggunakan perahu dayung kecil, diikuti perahu-perahu lain. Jauh di samping
dan belakangnya, masyarakat mengantar menggunakan perahu motor. Di jalanan,
masyarakat bergerombolan mengikuti perahu dari pinggiran pantai hingga tempat
perhentian di antara Kapela (kapel) Tuan Ma dan Tuan Anna.
Siang itu juga dilanjutkan dengan arakan patung Tuan Ma dan
Tuan Anna menuju Katedral Larantuka. Di sinilah dimulai prosesi dengan jutaan
lilin. Umat dan peziarah memadati Gereja
Kathedral untuk melakukan prosesi puncak Jumat Agung. Patung Tuan Ma (Bunda
Maria) dan Patung Tuan Ana (Yesus) akan diarak keliling Larantuka yang diwakili
oleh 8 armida (tempat perhentian). Sekitar pukul 19.00, umat mulai bergerak
dari Gereja Kathedral mengantar Patung Tuan Ma dan Patung Tuan Ana menuju
setiap armida. Armida-armida tersebut menyimbolkan kehidupan Yesus mulai dari
masa Bunda Maria mengandung hingga wafatnya Yesus. Delapan
armida melambangkan 8 suku. Sebelumnya, pada pukul 18.00, Lakademu atau petugas
yang akan menandu patung Tuan Ana melakukan jalan kure. Jalan kure adalah
memeriksa situasi keamanan di sepanjang rute yang akan dilewati patung Tuan Ma
dan patung Tuan Ana. Lakademu menggunakan baju khas Portugis dengan busana
tertutup hingga ke wajah. Sementara
itu, di sore hari warga mulai menempatkan gambar dan patung Bunda Maria di muka
rumah yang akan dilewati Patung Ma dan Patung Ana. Armida-armida pun dirias.
Malam saat iring-iringan, ribuan umat dan peziarah baik penduduk Larantuka
maupun pengunjung dari luar kota dan mancangera berbaur turun ke jalan.
Sambil berjalan, mereka terus melantunkan Salam Maria dan
kidung-kidung. Masing-masing membawa lilin. Di Gereja Kathedral dan di setiap
armida dilantunkan kidung “O Vos” atau ratapan derita Yesus.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
a. Kota
Larantuka adalah sebuah kota kecil yang berada disepanjang kaki gunung Ile
Mandiri dan memiliki sejarah tersendiri, karena merupakan kota tua tempat awal
penyebaran agama Katolik di wilayah Flores oleh sejumlah misionaris Katolik
dari negara Portugis dan dijuluki sebagai kota Reinha Rosari yang merupakan
tonggak sejarah ditemukan patung Tuan Ma.
b. Semana
Santa adalah suatu tradisi warisan Portugis di Larantuka. Tradisi ini berawal
dari abad ke XV sejak masuknya
misionaris Dominikan. Prosesi Semana Santa yang dirangkaikan dengan mengarak
patung Tuan Menino dan Tuan Ma hingga puncak perayaan paskah. Semana Santa
dalam arti sempit dimulai pada Hari Minggu Palma, kemudian menyusul hari Rabu
yang disebut Rabu Trewa.
c.
Prosesi Jumat Agung atau Sesta Vera merupakan puncak dari rangkaian perayaan
Semana Santa.
3.2. Saran
a. Bagi masyarakat Larantuka sangat
diharapkan untuk selalu menjaga dan melestarikan warisan para leluhur, sehingga
dapat terwujud keharmonisan didalam hidup beragama khususnya berkaitan dengan
ritual prosesi Jumad Agung.
DAFTAR PUSTAKA
Daeng, Hans J., 2000. Manusia, Kebudayaan, dan
Lingkungan: Tinjauan Anropologis Pengantar
Dr. Irwan Abdullah. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Fernandez, Stephanus Osias, 1990. Kebijakan Manusia Nusa
Tenggara Timur Dulu dan Kini.
Ledalero: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik
Ghono, John, 1992. “Nilai Religius Budaya NTT Sebelum dan
Sesudah Masuknya Pengaruh Kristianitas” Makalah Diskusi Panel Sehari Pelestarian Budaya Lokal.
Yogyakarta: Forum Studi Eureka
Pinto da Franca, Antonio. 2000. Pengaruh Portugis di
Indonesia. Diterjemahkan oleh Pericles Katoppo dari
Portuguese Influence in Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar